Sedih! Kisah Seorang Anak Menjaga Ayahnya Yang Lumpuh - FeriNgeblog
Headlines News :
Home » » Sedih! Kisah Seorang Anak Menjaga Ayahnya Yang Lumpuh

Sedih! Kisah Seorang Anak Menjaga Ayahnya Yang Lumpuh

Written By Unknown on Jumat, 21 Desember 2012 | 07.54


Bagi saya, mungkin cerita ini boleh membuatkan anda mengalirkan air mata. Bukan cerita untuk mendapatkan simpati, tetapi cerita derita seorang anak yang terpaksa menjalani sebuah kehidupan yang sungguh menyedihkan. Bayangkan seorang anak
kecil yang terpaksa hidup dan bekerja mencari uang demi menjaga ayahnya yang lumpuh. Ikuti kisah di bawah ini.

Zhang Da menanggung beban hidup yang berat ketika usianya masih sangat muda. Tahun 2001, ketika usianya menginjak umur 10 tahun, Zhang Da harus menerima kenyataan bahwa ibunya lari dari rumah. Ibunya keliru karena tidak tahan dengan kemiskinan yang dihadapi keluarganya. Yang lebih tragis, ibunya pergi karena merasa tidak sanggup lagi mengurus suaminya yang lumpuh, tidak berdaya, dan tidak punya harta. Dan ia tidak mau membantu keluarganya.

Maka Zhang Da yang tinggal berdua dengan ayahnya yang lumpuh, terpaksa mengambil-alih semua tanggungjawab keluarga. Ia harus mengurus ayahnya, mencari rezeki, memasak, memandikan ayahnya, mencuci pakaian, mengobati ayahnya, dan sebagainya.

Yang sangat menjadi inspirasi, ia tidak mau berhenti sekolah. Setelah mengurus ayahnya, ia pergi ke sekolah berjalan kaki melewati hutan kecil dengan mengikuti jalan menuju tempatnya mencari ilmu. Selama dalam perjalanan, ia memakan makanan yang ia temukan disana, mulai dari memakan rumput, dedaunan, dan jamur-jamur untuk memberi tenaga. Tidak semua jadi bahan makanannya, ia memilih berdasarkan pengalaman. Jika satu tumbuhan tidak enak di lidahnya, ia tidak akan memakannya dan mencari tumbuhan yang lainnya.

Usai sekolah, Zhang Da bekerja sebagai tukang batu. Ia membawa keranjang di punggung dan keluar menjadi pemecah batu. Upahnya ia gunakan untuk membeli berbagai keperluan seperti obat-obatan untuk ayahnya, bahan makanan untuk berdua, dan sejumlah buku untuk ia pejalari.

Zhang Da ternyata cerdas. Ia tahu ayahnya tak hanya memerlukan obat untuk diminum, tetapi juga memerlukan obat suntik juga. Karna tidak mampu membawa ayah ke doktor(Tidak punya uang) atau ke klinik terdekat, Zhang Da justru mempelajari bagaimana cara menyuntik. Ia beli bukunya untuk ia pelajari caranya. Setelah dia memahami caranya ia lalu membeli jarum sunti dan obatnya lalu menyuntikkannya secara rutin pada ayahnya.

Kegiatan merawat ayahnya terus dijalaninya hingga sampai lima tahun. Rupanya kegigihan Zhang Da yang tinggal di Nanjing, Provinsi Zhejiang, menarik perhatian pemerintahan setempat. Pada Januari 2006 pemerintah China mengadakan penghargaan peringkat nasional pada tokoh-tokoh inspirasi peringkat nasional. Dari 10 nama yang dipilih, satu di antaranya terselip nama Zhang Da. Ternyata ia menjadi tokoh terpilih yang termuda.

Acara tersebut diadakan melalui siaran langsung dimedia secara nasional. Zhang Da diminta tampil ke depan publik. Seorang pengacara bertanya kenapa dia mau berkorban seperti itu padahal dirinya masih anak-anak. “Hidup mesti terus berjalan. Tidak boleh menyerah, tidak boleh melakukan kejahatan. Mesti menjalani hidup dengan penuh tanggung jawab,” katanya.

Setelah itu terdengar seluruh penonton langsung bertepuk tangan untuknya. Pengacara bertanya pada dia lagi. “Zhang Da, sebut saja apa yang kamu mau?, sekolah di mana?, dan apa yang kamu inginkan? Berapa banyak uang yang kamu perlukan sehingga kamu bisa belajar dan dapat melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi lagi?. Pokoknya apa yang kamu mau sebutkan saja. Di sini ada banyak pejabat, perniagaan, dan orang terkenal yang hadir. Saat ini juga ada ratusan juta orang yang sedang melihat kamu melalui layar television, mereka dapat membantumu!” Jelas pengacara.

Zhang Da terdiam. suasana menjadi sunyi menunggu ucapanya. pengacara mesti mengingatkannya lagi. “Sebut saja!” kata pengacara menegaskan.

Zhang Da yang saat itu sudah berusaha 15 tahun pun mulai membuka mulutnya dengan  gemetar. Semua hadirin di situ, dan juga jutaan orang yang menyaksikannya secara langsung melalui television, terdiam menunggu apa yang diinginkan oleh Zhang Da. “Saya mau  mama kembali. Mama kembalilah ke rumah, aku mau membantu papa, aku mau cari makan sendiri. Mama kembalilah!” kata Zhang Da yang disambut titisan air mata terharu para penonton.

Zhang Da tak meminta hadiah uang atau benda-benda lannya, atas keikhlasannya berbakti kepada orang tuanya. Sedangkan pada masa itu para penonton yang hadir boleh membantu menolongnya. Di mata Zhang Da, mungkin dapat dicari, tetapi seorang ibu dan juga kasih sayang dari ibunya itu sangat tidak ternilai.

Pengajaran moral yang sangat sederhana, tetapi amat bermakna. Setuju kan?

Share this article :
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. FeriNgeblog - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger